Mohon maaf, untuk saat ini data belum tersedia...
Mohon maaf, untuk saat ini data belum tersedia...
| Hari ini | : | 47 |
| Kemarin | : | 361 |
| Total | : | 62.738 |
| Sistem Operasi | : | Unknown Platform |
| IP Address | : | 216.73.216.79 |
| Browser | : | Mozilla 5.0 |
Info
Menelusuri Jejak Sejarah Singosaren
Kalurahan Singosaren merupakan bagian dari kawasan bersejarah Kotagede yang memiliki berbagai peninggalan budaya dari masa Kerajaan Mataram Islam. Beragam situs bersejarah yang masih dapat dijumpai hingga saat ini menjadi saksi perjalanan panjang sejarah, budaya, serta perkembangan kawasan Kotagede sebagai pusat pemerintahan Mataram pada masa lampau.
Benteng Cepuri merupakan sistem pertahanan istana Kerajaan Mataram Islam di Kotagede yang dibangun pada masa Panembahan Senopati pada akhir abad ke-16 Masehi. Benteng ini tersusun dari batu bata dan batu putih sebagai pelindung kawasan inti kerajaan. Sebagian bangunan yang masih dapat dijumpai dikenal masyarakat sebagai Bokong Semar, menjadi ikon sejarah kejayaan Mataram Islam di kawasan ini.
Benteng Baluwarti merupakan salah satu peninggalan sejarah yang berada di wilayah Kalurahan Singosaren. Benteng ini menjadi bagian dari sistem pertahanan luar kawasan Kerajaan Mataram Islam di Kotagede dan memiliki nilai penting sebagai warisan sejarah yang menggambarkan tata ruang pertahanan pada masa lalu.
Kiai Gamel merupakan seorang pekathik kerajaan pada masa Keraton Mataram Islam masih berada di Kotagede, bertugas merawat, memandikan, memberi makan, serta melatih kuda-kuda kerajaan. Makamnya berada di tanah warga (Ibu Sri Subarsidah) dan hingga saat ini masih terawat dengan baik.
Nyai Melati merupakan seorang abdi dalem tebah pada masa Keraton Mataram Islam masih berada di Kotagede, bertugas membersihkan dan mengatur tempat tidur raja. Makamnya menjadi salah satu situs sejarah yang masih terjaga hingga kini.
Kompleks pemakaman kuno tempat peristirahatan berbagai tokoh penting. Di dalamnya terdapat Makam Kiai Jarak, makam tertua di kompleks ini dengan prasasti beraksara yang ditempatkan di samping nisan utama, serta Makam Ki Iman Redjo yang memuat silsilah keturunan Hadi Wijaya dari Pajang. Kompleks ini juga menjadi tempat dimakamkannya trah saudagar berpengaruh di kawasan Kotagede.
Watu Lumpang, atau oleh masyarakat juga disebut sebagai Punden Kamulyan, adalah batu berlubang yang memiliki fungsi atau makna tertentu, meski belum ada informasi pasti mengenai fungsinya di masa lampau. Lokasi situs yang dulunya berada di area terdampak pembangunan jalan lingkar (ringroad) kini dipindahkan ke area Wanadesa di Dusun Sareman, Singosaren III.
Berdasarkan penuturan masyarakat, makam ini dipercaya milik seorang dalang yang hidup pada masa lampau.
Warisan budaya merupakan identitas yang mencerminkan perjalanan sejarah suatu daerah. Melalui pelestarian situs-situs bersejarah ini, diharapkan nilai-nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang serta menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat dan pengunjung yang ingin mengenal lebih dekat sejarah kawasan Kotagede.
Hubungi Aparatur Desa Untuk mendapatkan PIN
Total Populasi Desa Singosaren
2211 2211
2596 4807
4807
TOTAL : 4807 ORANG
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
| Alamat | : | Sarirejo II RT.005, Singosaren, Banguntapan, Bantul |
| Desa | : | Singosaren |
| Kecamatan | : | Banguntapan |
| Kabupaten | : | Bantul |
| Kodepos | : | 55193 |